Indonesia, Potret Masyarakat Sakit
Masyarakat sakit mungkin yang paling cocok untuk menggambarkan masyarakat Indonesia sekarang ini. Setelah terjadi krisis moneter Indonesia disusul oleh krisis-krisis yang lain. Yang paling berbahaya adalah krisis moral sehingga orang tidak merasa risih lagi menyuap, korupsi dan tindak kejahatan lain yang bertentangan dengan moral agama manapun. Bahkan korupsi sudah mendarah daging dan membudaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sekarang Indonesia menduduki nomor lima negara terkorup di dunia (tahun 2007).
Apa yang terjadi dengan masyarakat Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan itu kita lihat persepsi masyarakat akan kebenaran yang sekarang sudah agak melenceng. Persepsi masyarakat bukan berdasar pada kebenaran berdasar agama atau norma yang berlaku tetapi kebenaran itu didasarkan pada kebiasaan yang belum tentu kebanarannya. Sebagai contoh dalam mencari pekerjaan seseorang harus menyetorkan uang sekian juta untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Karena sudah terbiasa maka hal seperti itu dianggap benar padahal sudah jelas salahnya yaitu suap.
Tidak kalah berbahaya yaitu mempersoalkan hal yang benar dan menganggap biasa bahkan benar hal yang salah secara norma agama atau norma lain. Masyarakat Indonesia menganggap biasa hamil di luar nikah dan mereka merasa tidak malu dengan hal itu bahkan artis yang notabene jadi public figure. Padahal hamil di luar nikah di agama manapun itu salah dan tidak ada yang mempermasalahkan kalaupun ada paling cuma segilintir orang dan sebentar.
Lain halnya dengan poligami yang dilakukan oleh seorang ustadz, bagaimana rekasi masyarakat? Poligami yang menurut agama boleh dan legal malah dihujat habis-habisan bahkan menteri dan presiden ikut bicara. Presiden melarang PNS untuk berpoligami. Ada yang berpendapat poligami itu merendahkan martabat perempuan. Tetapi kalau dipikir secara jernih jumlah perempuan dan laki-laki sekarang ini banyak perempuan. Setiap orang pasti membutuhkan seks untuk regenerasi, kalau setiap laki-laki dapat satu perempuan maka ada banyak perempuan yang tidak mendapat pasangan. Perempuan yang tidak mendapat pasangan itu bisa terjerumus ke dalam perzinaan (pelacuran) yang itu dilarang agama. Solusi yang terbaik dan tidak melanggar norma agama adalah poligami.
Itulah satu contoh mengapa Indonesia dikatakan masyarakat sakit. Bukan sakit secara fisik tapi sakit hati dan akalnya akan meyikapi fenomena yang terjadi di masyarakat. Untuk itu mari kita luruskan persepsi kita akan kebenaran yang sesungguhnya. Kita pelajari agama kita lebih mendalam maka masyarakat kiat yang sakit akan sembuh.
Mei 21st, 2008 at 7:29 am
Semua tulisan setuju, tapi…poligami ituloh.., lah kok pake data jumlah perempuan lebih banyak dari laki laki, lah wong jodo di tangan Allah SWT, kenapa mesti repot solusinya pake poligami…, ada toh solusi yg laen.
Mei 21st, 2008 at 9:01 am
# 1 raisarawir
Poligami itu cuma salah satu solusi menurutku, kalau Anda tahu solusi lain gak masalah. Kita semua ada kelebihan dan kekurangan masing-masing untuk itu saling bertukar pendapat diperlukan. OK
Mei 21st, 2008 at 11:01 am
poligami???
pernah baca ndak, pandangannya BUYA HAMKA tentang poligami?
beliau sampe melarikan diri ke Medan gara-gara di paksa ayahnya utk berpoligami….
baca tulisanku ttg ‘poligami menurut buya HAMKA’
http://qolbimuth.wordpress.com/2008/03/09/poligami/